Rabu, 19 November 2014

Hari Ketiga

Aku akan menceritakan sebuah kisah tentang diriku, kisah ini sudah ditulis di mana-mana. Di buku, di blogger lain, di catatan facebook, di karangan bahasa Jepangku. Namun aku merasa seperti menulis di atas pasir, pada akhirnya kisah yang kutulis terhapus oleh ombak. Sekarang aku menulis lagi, di selembar kertas yang akan kumasukkan ke dalam botol, semoga ombak akan memberikkan kisah ini ke dia.

Jadi, begini ceritanya. Namaku adalah Yume, aku lahir di Jakarta Barat di shubuh hari minggu tanggal 27 Februari 1994 di Tomang. Tepat 1 bulan kemudian di belahan bumi sana yakni di longjumeau lahirlah seorang anak bernama Shinjiru. Ia orang Indonesia, ia hanya kebetulan lahir di Perancis. Tapi di dunia ini tidak ada kebetulan. Semua kejadian saling terkait, antara masa lalu, masa kini dan masa depan.

Begitu juga kelahiran Shinjiru, orang Indonesia yang lahir di Longjumeau. Dia lahir di sana karena Ayahnya sedang menempuh studi S2 di sana. Jadi Shinjiru berada 5 tahun di tempat itu, dan ingatannya di sana agak samar-samar. Ya, ingetan ku saat 5 tahun awal kehidupanku juga samar-samar, tapi ada banyak hal yang kuingat saat balita.

Sepatu coklat kesayanganku, baju polkadot ku, baju yang aku kenakan saat itu seperti baju eropa abad ke-18, dengan rok selutut mengembang, antara rok dan atasan menyatu. rambutku terpotong pendek.

Dari semenjak aku belum bisa membaca, tanteku sering memberikan aku buku cerita bergambar. dongeng karya Hans Christian Anderson.  Karena aku belum bisa membaca, ayahku rajin sekali membacakannya untukku.

Setelah bisa membaca, aku biasanya membaca majalah anak-anak. Saat main dengan sepupuku yang tinggaal di sebelah rumah, ketika aku melihat buku dongeng, akupun membacanya. Saat di Ciawi yakni di rumah nenek, kakek, tante dan sepupuku pun aku sempat membaca majalah anak-anak milik sepupuku.

Saat kelas 4 SD, Guruku sering menyuruh aku dan teman-teman sekelasku membaca buku di perpustakaan. Aku pun sering membaca lagenda, cerita rakyat. Akhirnya saat SD dan SMP aku rajin membeli majalah bobo, di majalah itu ada cerpen, cergam, dongeng, cerbung. Dan saat SMP ada edisi spesial astronomi dan harry potter. Saat itulah aku mengenal Shinjiru, seorang anak di Observatorium Boscha. Karena hal inilah maka aku bermimpi untuk kuliah di ITB dengan jurusan Astronomi agar bisa bertemu dengan anak laki-laki itu.

Karena suka membaca aku juga suka membaca novel di perpustakaan SMP, dan menyewa komik di tempat penyewaan komik depan SMP. Saat SMA pun aku menyewa komik di tempat penyewaan lain, tapi waktuku habis untuk belajar, karena semangat belajar ku saat itu tinggi karena habis diberi semangat oleh ibuku. Kelas XI aku ikut les, tapi nilai tidak sebagus saat kelas X. Saat SMA, ketika mendekati UN, aku begitu gugup dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dunia game online di facebook. Aku mengenal kaka laki-laki yang sedang kuliah di UNJ, Lalu ada kaka perempuan yang kuliah di UI dan UGM. Teman-teman di game onlineku kaka kelas semua, tapi ada juga yang masih SMA. Tapi aku bergaulnya dengan mereka yang sudah beberapa tahun di atasku. Tapi permainan kami berlangsung beberapa bulan. Sebulan menjelang UN aku sudah tidak main lagi, malu sama kaka kelas, masa saya tidak belajar untuk UN.

Akhirnya aku lulus, lalu mengikuti jalur undangan untuk masuk Universitas. Orang tuaku menolak untuk mengkuliahkan aku di ITB, karena Universitas itu berada di luar kota, jika aku kuliah di sana maka aku harus ngekos. Dan mereka belum ingin berada jauh dari anak perempuan terakhir, satu-satunya dan yang paling tersayang ini. Jadi, aku menuliskan UNJ, dan menuliskan jurusan FMIPA di lembar pilihan jalur undangan.

Tapi ternyata, aku tidak bisa menggunakan jalur undangan karna jalur undangan hanya bisa menerima anak yang nilainya meningkat ke atas bukan ke bawah. Contohnya kelas X misal nilai rata-rata 7. Kelas XI nilai rata-rata 8 dan kelas XII rata-rata 9. Sayangnya nilai rata-rataku terbalik. Kelas X nilai keseluruhan mata pelajaran 9,8 kelas XI 8,5 dan kelas XII 8. Jadi, tidak bisa mengikuti jalur undangan.

Akhirnya aku mengikuti ujian Penmaba, tapi aku bingung mau belajar dari materi apa, dan apa saja yang akan keluar di ujian Penmaba. Aku mencari di google. Ternyata ada anak UNJ yang menjual soalnya. Untuk latihan belajar akhirnya aku memesannya. Akhirnya orang itu datang ke rumahku memberikan soal itu dan aku membayar 50 ribu atau 75 ribu atau 100 ribu aku lupa berapa. Lalu aku mulai belajar, namun ternyata sulit juga soalnya, tidak ada lembar pembahasannya juga, jadi benar-benar harus dikerjakan sendiri.

Akhirnya hari ujian tiba, kakakku yang baik hati mengantarkan aku, ternyata teman sekolah ku ikut ujian juga tapi mereka tersebar di tempat ujian yang lain. Aku mulai mengerjakan ujian, ujian yang soalnya begitu banyak hanya diberikan sedikit waktu, jadi ada yang belum sempet aku jawab karena terbatasnya waktu.

Aku pun menunggu pengumuman sembari buka facebook, lalu aku dalam hati aku berkata "Sayang sekali aku tidak bisa masuk ITB." Lalu sembari buka google aku juga melihat-lihat hasil kliping ku saat SMP. Kliping tentang astronomi dan harry potter. Saat aku SMP aku sangat senang sekali membeli bobo edisi spesial harry potter, karena selain majalahnya tebel berisi harry potter, aku juga mendapatkan hadiah seperti note book dan lain-lain.

Lalu aku melihat peta bintang, hadiah dari majalah. Aku tidak mengerti, kenapa saat aku SMP semua majalah anak-anak hampir seluruhnya membahas tentang alam semesta. Dan aku bersyukur saat SMP aku membeli semua majalah yang membahas alam semesta. Aku melihat peta bintang, namun percuma karena aku tidak bisa menyamakan bintang-bintang ini dengan yang di langit. Karena aku tinggal di jakarta, cahaya lampu di malam hari mendominasi sehingga sulit melihat bintang pada pukul 6 sampe 10 malam. Jika melihat kelangit leher akan pegal. Karena aku tinggal di warakas yakni di paling utara jakarta, di sebuah tanjung, maka terkadang langit tertutup oleh rumah - rumah warga yang berlantai 2, dan jarak satu rumah ke rumah lain sangat rapat seperti sedang berjejer dan memeluk bahu kawan disebelahnya. Lalu di depan rumah-rumah yang berjejer itu ada jalanan yang bisa dilalui satu mobil kecil dan ada juga kali kecil di gang 15 tempat aku tinggal. Jika menengadah ke atas, maka langit tertutup perumahan warga, kabel listrik, dan sedikit pepohonan besar, langit berwarna biru muda kelabu tanpa bintang, hanya ditutupi oleh awan-awan putih.

Lalu karena mataku minus, aku semakin sulit melihat bintang di langit, jadi jika ingin lihat maka harus menengadah dan menatap lama sekali sampai leher pegal baru terlihat bintang yang terlihat begitu kecil seperti butiran ketombe. Lalu sebelum sempat melihat semua bintang, leher sudah begitu pegal duluan. Saat-saat menyenangkan ketika melihat bintang adalah di planetarium. Dulu saat perpisahan TK, Kami jalan-jalan di planetarium. Setelah sampai di planetaium aku duduk di samping guru TK ku, di dalam ruangan terasa begitu dingin, aku sampai mendekap tanganku di dada berusaha memeluk diri ku sendiri. Lalu lampu di matikan, suasana begitu gelap. Narator pun memperkenalkan bintang-bintang serta rasi bintang.

Rasi bintang itu membuat sebuah gambar yang besar, saat itu aku bertanya pada guru tk ku yang bernama bu Cipta, dia selalu hadir dalam imajinasiku saat aku akan tidur. Aku bertanya apakah di langit memang ada gambar besar seperti itu. Bu Cipta mengangguk "Ya tentu ada rasi bintang.". Lalu aku menyanggah "Tapi, aku jarang melihat semua gambar tadi di langit." Bu Cipta menjawab "Lihatlah ke langit jam 10 atau jam 12 malam."

Tapi sayang jam 10 malam aku sibuk di dalam rumah, tapi akhirnya aku teringat dan keluar rumah. Aku ke teras tapi langit tertutup oleh pohon jambuku dan rumah tetangga yang di depan rumah. Lalu aku ke jalanan menengadah ke langit. Hanya ada sedikit bintang. Lalu aku keluar gang, dan terlihat bulan. Lalu aku masuk rumah lagi dan berguman "Hanya bulan, dan tidak ada gambar besar yang terlihat seperti di planetarium, gambar besar yang disebut oleh orang-orang dengan nama rasi bintang, yang gambarnya berbentuk orang memegang panah, lalu lembu, domba, kala jengking. Semua gambar itu tidak ada, di langit depan rumahku."

Dan jam 12 aku tidak keluar karena ibu menyuruhku tidur. Saat tertidur aku memimpikan Bu Cipta lagi, ia tersenyum dan berkata "Sudah jam 12." Lalu aku dan bu Cipta ada di luar gang kami menatap langit "Dan terlihat gambar besar di langit, ada banyak sekali, aku berjalan ke sana sini dan semua gambar itu ada. Rasi bintang yang sangat banyak serta besar. Ketika aku terbangun di pagi harinya, aku masih ingat mimpi itu, dalam hati aku berkata "Sungguh tidak ada yang lebih nyata dibanding mimpi itu sendiri."

Saat SD aku belajar tentang rasi bintang dan saat malam hari, saat membeli nasi goreng, aku duduk di kursi dan menengadah ke langit sampai leher pegal, hatiku berkata "Sungguh orang purbakala di yunani daya khayalnya tinggi sekali, mungkin karena mereka menatap ke langit dalam waktu yang lama, sehingga mereka bisa menghapal letak-letak bintang itu dan menyambungkannya menjadi rasi bintang. Dan karena aku hanya melihat bintang-bintang itu dalam waktu satu menit maka akan lama sekali aku menghapal letak bintang-bintang yang letaknya tiap jam berbeda, serta sulit membuat dan menghubung-hubungkan bintang menjadi rasi bintang.

Kembali lagi saat aku sudah lulus SMA, jadi saat aku melihat-lihat kembali kliping itu. Aku membaca biodata narasumber artikel astronomi itu. Kebetulan Bobo sedang mewancarai dia. Jadi narasumber itu bernama Bapak Shiji, ia dosen Astronomi di ITB, dan saat aku SMP dia kepala observatorium bosscha.

Aku melihat kembali artikel mengenai Bosscha, Pak Shiji dan seorang anak laki-laki. Menurut artikel itu anak itu adalah anaknya Pak Shiji, aku tidak tahu nama anak itu siapa. Tapi karena aku hidup di zaman teknologi dan informasi yang begitu pesat maka aku mencari tahu di google laptopku. Di mesin pencari kutulis nama Pak Shiji. Tapi yang keluar adalah seorang pemain bulu tangkis yang memiliki nama sama dengan Pak Shiji.

Aku pun menulis lagi di mesin pencari kutulis "Seorang Dosen Astronom bernama Shiji memiliki anak bernama." lalu aku klik enter. Dan keluarlah banyak link. Isinya masih tentang pemain bulu tangkis itu, tapi ada satu buah link yang menceritakan tentang Pak Shiji. Aku mengklik link itu dan membaca blogger itu. Isinya adalah biodata Pak Shiji, di situ juga tertulis nama anak semata wayang Pak Shiji.

Lalu di mesin pencari facebook ku aku menulis nama Shinjiru, yakni nama anak Bapak Shinjiru, Dan muncul lah facebook dia, ada juga facebook ayah dan ibunya. Sayang sekali Shinjiru tidak menerima permintaan pertemanan ku di facebook, padahal ayah dan ibunya menerima permintaan pertemanan dariku.

Aku juga menulis nama dia di mesin pencari google, ternyata ia rajin menulis di blogger dan tumblr. Rajin sekali, bahkan aku yang memiliki cita-cita menjadi novelis pun kalah rajinnya. Aku pun membaca seluruh isi blogger dan tumblr nya dan menyadari bahwa Shinjiru memiliki pacar. Namun walau begitu aku tetap membaca kisah hidupnya dari kecil sampai saat ini.

Ia 35 hari lebih muda dariku, namun aku lebih cepat setahun kuliahnya, mungkin karena aku tk di umur 4 tahun setengah. Dan dia mungkin saat pulang dari Perancis di umur 5 tahun, ikut Tk di Bandung agar bisa berkomunikasi dengan bahasa sunda dan beradaptasi terlebih dahulu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar